Kasus Stunting Bikin Pusing, Pemprov Jateng Gencarkan Nginceng Wong Meteng

Advertisement

JATENG MEMANGGIL Stunting atau kasus anak kerdil masih belum tuntas tertangani secara maksimal di wilayah Jawa Tengah. Berbagai ikhtiar terus dilakukan di seluruh wilayah provinsi setempat, termasuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Itu juga yang dilakukan Tim Penggerak PKK se-Jawa Tengah, pada talkshow bertajuk Bucin, Bagi Ilmu Cara Instan. Acara merupakan rentetan dari kegiatan Bursa KUKM di GOR Satria Purwokerto Kabupaten Banyumas, Sabtu (13/5/2023).

Wakil Ketua II TP PKK Jateng Indah Sumarno mengatakan, pihaknya secara garis besar memiliki berbagai upaya pencegahan stunting. Setidaknya, ada tiga cara yang telah dilakukan.

Pertama, Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG). Program itu melakukan empat fase yang dipantau. Mulai dari persiapan kehamilan, selama kehamilan, di saat persalinan, dan masa nifas.

“Itu jadi target sasaran 5NG. Gerakan ini penting untuk pencegahan stunting,” kata Indah dalam talk show tersebut.

Kedua, bebernya, ada Jo Kawin Bocah, yaitu gerakan seluruh TP PKK dari level dasa wisma sampai ke tingkat kabupaten/ kota. Pada prinsipnya, terang Indah, program itu melindungi hak anak, supaya dia bisa memasuki usia pernikahan yang matang. Usia perkawinan matang yaitu 19 tahun.

Sebab dengan usia matang akan membawa kesiapan fisik dan psikis ibu, sehingga bisa menekan kematian ibu dan bayi. Satu lagi, program pencegahan stunting yaitu di Jateng ada Ceting Ketan yaitu cegah stunting kelompok rentan.

Ceting Ketan merupakan gerakan KB, yang intinya mencegah kelahiran di usia muda, kelahiran terlalu sering, kelahiran jarak yang terlalu dekat dan kelahiran ibu yang terlalu tua.

“Implementasinya, turun ke lapangan dan lebih dekat,” terang Indah.

Ketua Pokja IV TP PKK Jateng Retno Sudewi mengatakan, pencegahan stunting seyogyanya harus dilakukan bersama atau dikeroyok bersama.

“Bagaimana kita memberi gizi yang bagus ke anak, makanya ada sentuhan gizi tapi juga sanitasi lingkungan. Sarana lingkungan. Bagaimana mencuci tangan yang benar,” kata Dewi.

Menurutnya, penanganan stunting juga harus memperhatikan faktor ekonomi keluarga, mulai dari perempuan melek secara ekonomi. Sebab kalau belum melek ekonomi bagaimana mereka mau masak bergizi, serta melek media karena informasi banyak ditemukan.

“Sasaran stunting adalah ibu dan anak. Jadi bisa menggandeng Genre, Forum Anak, Karang Taruna, OSIS. Tim Penggerak PKK sudah menggandeng Forum Anak,” beber dia.

Dewi juga mengingatkan, usia perkawinan anak itu juga harus diperhatikan. Idealnya, wanita itu 21 tahun dan laki laki 25 tahun. Juga yang harus diperhatikan lainnya adalah peran suami. Kehadiran suami yang selalu siaga, juga turut membantu istri dalam mencegah stunting.

Ketua TP PKK Kabupaten Banyumas Erna Husein mengatakan, di wilayahnya, penanganan pencegahan stunting dilakukan secara bersinergi semua kalangan.

“Stunting kita keroyok bareng karena stunting tanggung jawab bersama. Bagaimana makanan diolah dan harus diberikan, biar berat badannya naik,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *