Permudah Transaksi Keuangan di Lingkup Pesantren, Asparagus Jalin MoU Dengan BSI

Advertisement

JATENG MEMANGGIL- Kembangkan sistem transaksi keuangan berbasis ekonomi pesantren yang mengarah pada prinsip transparansi dan efisiensi. Aspirasi Para Gus (Asparagus) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Hal itu disampaikan oleh salah seorang Gus dari pesantren Tegalwangi Cirebon, Jabar, Gus Eko Ahmadi, yang juga ikut tergabung dalam Asparagus, saat acara Silatnas Asparagus, di Pondok Pesantren Al Mustofa, Pandes, Senin (06/05/2024) malam.

Gus Eko mengatakan, pihaknya menyambut baik atas terjalinnya kerssama anatar BSI dengan Asparagus tersebut.

“Kami itu ingin pesantren profesional dalam seluruh pengengelolaan, baik di bidang pemdidikan, keuangan maupun bisninya. Mudah- mudahan kerjasama ini membawa berkah dan manfaat bagi pesantren, sekaligus membawa pesantren yang mandiri. Jadi kita bisa mandiri dan tidak tergantung kepada pemerintah,” ungkapnya.

Gus Eko mengaku, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan BSI sudah sejak lama, sejak terjalinnya keerjasama itu, pihaknya merasa mendapat fasiltias dan kemudahan- kemudahan dalam mengurus administrasi keuangan di pesantrennya.

“Asparagus ini bukan organisasi legal formal. Namun, kami mempunyai komitmen dan kesepakatan bersama dalam memajukan dunia pesantren. Saat ini, sudah ada sekitar 50 ribu lebih peaantren di Indonesia yang sudah ikut bergabung di Asparagus,” tandasnya.

Sementara itu, Regional CEO BSI, Ficko Hardowiseto mengatakan bahwa, MoU yang baru saja terjalin ini merupakan bagian dari kesemangatan pihaknya dalam bersinergi dengan peaantren, khususnya pesantren- pesantren yang di bawah naungan MUI.

“Total BSI Agen di Jateng dan DIY itu ada sekitar 5 ribu BSI Agen, Dari 5 ribu BSI Agen itu ada 20 BSI Agen ada di pesantren,” tuturnya.

Ficko menegaskan, saat ini BSI ini sedang menfokuskan lebih dalam lagi terkait program Pendalam Islami Ekosistem.

“Kemanfaatan kerjasama ini, tidak hanya bisa dimanfaatkan oleh pesantren saja, namun, para santri, wali santri dan masyarakat juga bisa mengambil manfaat dari MoU yang kita jalin ini,” ungkapnya.

Ficko menjelaskan, dalam MoU tersebut yang dikerjasamakana diantranya yaitu, terkait program transaksi keuangan melalui aplikasi Santri, pemberdayaan dan pendampingan pesantren.

“Saat ini yang kita jalankan yaitu program BSI Agen. Pesantren kita jadikan BSI Agen sebagai pusat transaksi keuangan yang bisa juga untuk melayani masayrakat,” tuturnya.

Dengan adanya BSI Agen di pesantren, kata Ficko, seluruh transaksi keuangan di pesantren mulai dari pembayaran administrasi di pesantren hingga transaksi keuangan lainnya bisa dilakukan melalui BSI Agen tersebut.

“Dengan adanya BSI Agen di pesantren, tentu akan menjadi nilai lebih bagi pesantren, karena dalam teknis atau sistem kinerjanya BSI Agen itu kita akan memberdayakan para santri untuk pengelolaan menejemennya melalui aplikasi yang kita siapkan,” ungkapnya.

Dengan begitu, lanjut Ficko, tentu pesantren akan mendapatkan nilai lebih dan bisa menambah pendapatan bagi pesantren itu sendiri.

“Semakin banyak transaksi yang dilakukan akan semakin banyak juga penghadilan yang akan didapat oleh pesantren,” pungkasnya.
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *