Momen Hari Tani Nasional 2023, Ini Harapan Petani Muda Kendal NM Tegoeh Prakoso

Advertisement

JATENG MEMANGGIL- Seorang petani muda dari Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, NM Tegoeh Prakoso, berharap, pemerintah dapat memperhatikan dan memberi solusi atas masalah- masalah yang dihadapi oleh para petani Indonesia.

NM Tegoeh Prakoso, yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Petani Muda Indonesia ini juga meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan dan memperjuangkan atas keberlangsungan sektor pertanian, agar negara Indonesia sebagi negara agraris ini bisa mandiri dalam pangan dan kesejahteraan para patani bisa terjamin dan selelu jaya.

Hal tersebut, disampaikan oleh petani muda asal Kendal, NM Tegoeh Prakoso, di momen Hari Tani Nasional tahun 2023, Minggu (24/09/ 2023).

Di momen ini, NM Tegoeh Prakoso juga ingin mengajak masyarakat khususnya generasi muda, untuk bisa terjun di sektor pertanian.

“Selain itu, saya juga ingin merubah paradigma yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya bagi generasi muda yang beranggapan bahwa sektor pertanian tidak menghasilkan keuntungan apa pun, kotor, hingga merasa jijik. Padahal, banyak peluang besar di sektor pertanian yang bisa diambil,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Tegoeh, masih banyak generasi muda yang beranggapan bahwa menjadi seorang petani itu tidak ada masadepanya, lantaran,pola pikir generasi muda kebanyakan menganggap bahwa seorang petani harus berurusan dengan tanah basah, pupuk dan menganggap bahwa petani hanya bekerja mencangkul dan mengamati saja.

“Kalau jita mau melihat kondisi saat ini, kebanyakan yang bekerja dan mengurus lahan pesawahan itu dari kalangan orang tua. Rata-rata, petani saat ini sebanyak 61% berusia lebih dari 45 tahun. Untuk itu, saya ingin mengubah paradigma yang terjadi di kalangan kaum melenial ini, agar mereka tersadar betapa banyaknya peluang yang bisa di ambil dari sektor pertanian,” tandasnya.

Menurut Tegoeh, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian saat ini masih minim. Bahkan negara Indonesia juga belum bisa memaksimalkan sektor pertanian yang ada.

“Badan Pusat Statistik memaparkan, data kemampuan Indonesia dalam memproduksi beras mencapai lebih dari 30 ton. Melalui jumlah produksi yang besar ini, mengapa Indonesia masih belum bisa menjadi negara penghasil padi terbesar?,” ujarnya.

Tegoeh menegaskan, kegiatan pertanian di indonesia saat ini semakin menghawatirkarkan, lantaran tingginnya permintaan pangan tidak di imbangi generasi petani muda, dan aspek-aspek yg lain di pertanian.

“Saat ini masih banyak masalah dihadapi oleh para petani. Masalah pertama dalam pertanian di indonesia adalah kelangkaan pupuk. Pada saat masa tanam raya datang, seringkali terjadi kelangkaan pupuk, yang mengakibatkan kurangmaksimalnya proses tanam, sehinga petani di indonesia kurang maksimal dalam pengolahannya yang mengakibatkan hasil panen kurang maksimal atau melimpah,” bebernya.

Bayangkan, lanjut Tegoeh, jika para generasi muda turut andil dalam pengelolaan lahan pertanian dengan ilmu yang lebih mumpuni, tentu hal ini akan memengaruhi pasokan kebutuhan hasil panen yang lebih besar dan kualitas yang lebih baik. Tercapainya ketahanan pangan indonesia.

Masih menurut petani muda asal Kendal, NM Tegoeh Praskoso, hal yang masih menjadi masalah besar bagi petani saat ini ialah, sistem penjualan yang terkadang merugikan petani, namun menguntungkan bagi para tengkulak dan cukong pertanian.

“Padahal, hampir sebagian besar hasil pertanian dirawat dan dipanen oleh petani dengan berbagai risikonya seperti wabah penyakit tanaman, cuaca, dan masalah pertanian yang lainya. Hal seperti inilah yang semakin mendorong banyak orang untuk tidak memilih pekerjaan sebagai petani,” terangnya.

Oleh sebab itu, kata Tegoeh, perlu adanya pemotongan rantai sistem penjualan yang menjatuhkan harga panen, mulai dengan membelinya dengan harga yang wajar dan menjualnya dengan total keuntungan yang wajar pula.

“Jadi dengan begitu tidak ada lagi pihak yang akan dirugikan, sebab seluruhnya memiliki bagian keuntungan yang hampir setara. Dalam dunia pertanian, tidak hanya dibutuhkan ketersediaan lahan saja, namun ketersediaan bibit, pupuk, alat pertanian dan masih banyak lagi,” paparnya.

Menurut Tegoeh, tidak semua petani memiliki besaran modal yang cukup untuk menutupi segala kebutuhan pertaniannya. Namun bukannya mudah, justru lebih sulit bagi petani mendapatkan bantuan modal usaha sebab usaha tani dianggap tidak dapat memberikan kepastian pendapatan dan bergantung pada kondisi cuaca.

“Saat ini, banyak petani di Indonesia yang melakukan pengolahan lahan pertanian berdasarkan naluri dan pengalamannya saja. Bukan tidak baik, hanya saja hal ini akan lebih baik jika sektor pertanian dikelola dengan ilmu yang mumpuni dan bekal pengetahuan yang lebih luas tentang pertanian,” ungkapnya.

Selain itu, juga perlu mengenal porsi pupuk yang sesuai dengan takaran angka yang pasti dan perbandingan yang tepat. Hal ini juga berlaku pada pemilihan benih. Untuk menghasilkan produk tani yang berkualitas, tentu dibutuhkan benih yang berkualitas.

“Kecilnya pendapatan yang diterima petani, yang diikuti dengan peningkatan biaya hidup sehari-hari, membuat banyak petani lebih memilih untuk menjual sawahnya. Umumnya, lahan sawah yang dijual akan dialih fungsikan menjadi bangunan yang bisa berupa rumah, ruko, gedung, atau bangunan lainnya,” tandasnya.

Disinilah, kata Tegoeh, diperlukan peran besar pemerintah dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar keberlangsungan pertanian di Indinesia bisa terjaga dan kesejahteraan petani bisa terwujud.

Lebih lanjut Tegoeh menjelaskan, produktivitas yang tidak terlalu besar, dengan lahan yang semakin lama menjadi semakin sempit, bisa menyebabkan perekonomian para pelaku usaha tani menjadi semakin menipis.

“Hal ini tentunya memengaruhi jumlah panen yang didapatkan sebab jika umumnya petani dapat menghasilkan produk panennya dalam jumlah besar, menyempitnya lahan membuat hasil panen menjadi lebih sedikit,” katanya.

Menurut Tegoeh, selain itu irigasi pertanian juga perlu ditata ulang. Sebab, tak hanya hasil panen yang berkualitas buruk atau gagal panen saja, lahan pertanian juga akan berdampak.

“Ketika musim hujan, banyaknya pasokan air yang masuk bisa menyebabkan beberapa jenis tanaman menjadi mati dan tidak layak panen. Sama halnya ketika kemarau datang dan menyebabkan kekeringan,” ucapnya.

“Berbagai bahan makanan pokok masyarakat saat ini, sebagian besar membutuhkan pasokan air yang cukup. Agar produksi pertanian dapat dipanen dan dijual kembali ketika kekeringan terjadi, maka tandanya jika kekurangan pasokan air besar kemungkinan hasil panen akan gagal,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan, momen Hari Tani Nasional ini menjadi momen penting bagi semua kalangan.

“karena dengan adanya momen tersebut kita bisa mengenang, mengapresiasi dan memberikan dedikasi kepada para petani. Jadi kalau ada istilah pahlawan tanpa tanda jasa itu tidak hanya untuk guru saja, namun petani juga bisa dibilang begitu,” kata Pandu.

Menurut Pandu, petani itu menjadi tulang punggung bagi perekonomian dan penggerak di sektor pertanian. Petani juga menjadi tiang utama bagi ketahanan pangan, karena dengan adanya petani itu terciptalah ketahanan pangan nasional.

“Saya berharap di Hari Tani Nasional ini semua stakeholder terkait bisa bersinergi, agar bagaimana produksi pertanian bisa meningkat. Selain itu, jangan lupa kita juga harus tetap menjaga eko sistem alam demi keberlangsungan pertanian yang lestari,” ungkapnya.

Terkait perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan sektor pertanian yang ada, Pandu mengatakan, selama ini pihaknya juga sudah banyak memberikan bantuan kepada para petani, termasuk bantuan yang sifatnya stimulan dan masalah pembiyaan bagi para petani.

“Kita juga sudah banyak memberikan bantuan modal, alat atau mesin pertanian, sarana dan prasarana pertanian dan pupuk Pestisida. Selain itu kita juga memberikan edukasi kepada para petani melalui penyuluhan dan pelatihan dengan teknologi modern, dengan harapan bisa meningkatkan sektor pertanian khususnya di Kendal,” paparnya.

Pandu mengaku, dengan segala keterbatasan yang ada, pihaknya akan terus berupaya untuk selalu meningkatkan produksi dan ketahan pangan yang ada di Kendal.

“Karena Kabupaten Kendal ini menjadi salah satu lubung pangan di Jateng selain Demak dan Grobogan. Untuk itu kita akan terus mengupayakannya dengan semaksimal mungkin,” pungkas Pandu saat momen Hari Tani Nasional tahun 2023.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *